Antologi Puisi Yunk Putra El-Lefaqy – Kepada Ibu di Barzah

38 Shares
Mengawini Gerimis

 

aku mengawini gerimis sehingga beranak hujan.

Tu(h)an diam saja menyaksikan aku setubuhi rintiknya.

titik-titik tajam menghujam mata, telinga, juga kemaluanku

yang terlanjur malu membuahi anak sekian banyak: hujan badai.

 

Menceng Raya, 2017

 

Berenang di Penggorengan Ibu

 

aku menginjak usia tujuh kala itu. masih lucu.

girang bila melihat ikan-ikan berenang di penggorengan ibu.

kini aku dua puluh tujuh.

dan giliran aku yang berenang di penggorengan berdebu itu.

 

Menceng Raya, 2017

 

Istiqomah Hendak Menikah

 

Istiqomah

sahabat kandungku.

beda ayah dan ibu.

meski tak sekampung

kita tetap menampung rindu

dari jarak yang membelenggu.

 

Istiqomah

kita sama-sama tak di rumah

mencari rupiah di tanah entah

abai serapah orang-orang rumah.

 

Istiqomah, kudengar kabar

kau hendak menikah. segeralah.

 

Menceng Raya, 2017

 

Janji Pena

 

selama kopi

masih pekat,

aku

takkan habis

mencatat riwayat.

 

Menceng Raya, 2017

 

Kepada Ibu di Barzah

 

aku ingin menjelma sepohon kamboja

di halaman rumahmu

dedaun hijauku mengipas-ngipas angin

ke arah kamarmu

lima kelopak putih bungaku menebar wangi

kala ada yang bertamu.

 

Menceng Raya, 2017

 

Kenangan Senja Lombok

 

ingin kubungkus ranum senja

dari pelupuk matamu

lalu kubawa pergi

– juga sederet kenangan

di bibir pantai –

akan kubuka

bila rindu datang

rindu menuai sajak senja

dan kenangan

sebab di sini

tak ada seindah

senjamu, Lombok

 

Menceng Raya, 2017

 

Lolly dan Muda Mudi Masa Kini

 

Lolly. kucing kesayanganku. kecil

ditinggal ibu dibesarkan aku. pandai

berburu.

suatu hari aku pergi. kutitip

ia pada bibi.

Lolly belia kian nakal: binal. kawin

tanpa wali. macam muda mudi masa kini.

 

Menceng Raya, 2017

 

Ketika Hujan Tak Jadi Turun

 

pagi sendu.

bulir embun di rerumputan kering

pucuk kemarau belum juga mekar

sedang hujan sibuk berdiskusi dengan awan

mentari malu-malu memecah percakapan

 

mendung seharian.

 

Menceng Raya, 2017

 

Subuh Pualam

 

tiga puluh tiga butir

kutelan tasbih dalam takbir terakhir subuh.

 

kutahan tuma’ninah pada sujud paling dalam

pangkal pagi rekah: subuh paling pualam.

sedang pucuk malam kelam.

 

di sini kubersimpuh menelan

ta’awuz sedalam-dalam.

kepada-Mu memohon perlindungan.

 

Menceng Raya, 2017

 

38 Shares

Yunk Putra El-Lefaqy

Asli Lombok NTB. Sekarang bermukim di Jakarta. Pecinta senja dan puisi.

4 thoughts on “Antologi Puisi Yunk Putra El-Lefaqy – Kepada Ibu di Barzah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *