Cerpen: Kaldera

8 Shares

Jangan bertanya siapa ibuku. Sebab aku juga tak tahu. Jangan bertanya di mana saudaraku. Sebab aku tak mau bertemu dengan mereka (kupikir ibuku pasti beranak terus-menerus atau bapakku yang rajin menanam benih) yang bernasib sepertiku.  Jangan bertanya siapa bapakku. Sebab aku takut. Terakhir kali aku melihatnya, tergantung jelas kertas bertuliskan satu juta saja di leherku.

Tanyalah siapa aku. Dengan senang hati aku menjawab, aku Kaldera. Tanyalah dimana aku. Dengan berbangga aku menjawab, di tempat yang tak pernah kau harapkan. Tanyalah mengapa aku di sini. Dengan lantang aku akan menjawab, dendamku sudah habis.

**

Sephia melukis panorama langit dan menjadi saksi indera penglihatanku mengelilingi pemandangan di luar jendela dari sela-sela besi dingin. Aku masih tak ingat pasti mengapa memilih tempat ini. Atau malah aku memang dipilih untuk berada di sini? Walaupun aku memang menyukainya. Biarpun sekarang aku hanya ditemani lalat-lalat yang mengerubungi makanan semalam.

“Dasar anak haram!”

Sepanjang usiaku, hanya tiga temanku. Semuanya adalah kata-kata. Aku tak tahu apakah itu hanya kata-kata atau lainnya. Sepanjang jalan yang telah kulalui, sembilan belas tahun atau hampir genap kepala dua telah menghantui. Aku, Kaldera. Panggil saja Dera. Anak haram dengan eksistensi tertinggi di kampungku.

Aku hidup bersama bapak. Dengan uang hasil judi semalam. Kami tinggal di rumah yang dibangun dari kayu bekas penuh paku dan gragal gratis dari perumahan sebelah. Rumah ini seharusnya bekerja sesuai namanya. Tak hanya sebagai sarana untuk berteduh. Lebih luas daripada itu. Setidaknya aku masih memiliki harapan.

Samar aku mendengar bapak memanggilku, namun aku tak langsung menghampirinya. Mungkin aku salah dengar. Karena saat itu aku sedang memasak tumis kacang panjang di depan rumah. Dapur rumah kami? Rumah ini hanya seukuran kamar indekos. Kompor akan membuatnya semakin sesak dan tentunya bau tak sedap pasti muncul tiba-tiba.

“Sini kau Dera!” suaranya terdengar marah. Bergegas kutiup kompor minyak di depanku. Berlari kecil ke dalam rumah sambil menenteng wajan di tangan. Wajahku jelas merintih kesakitan karena menahan panas. “Apa maksud kau? Turunkan wajan itu!” bentaknya sekali lagi. Lekas kuletakkan wajan itu di meja.

Indera penglihatanku melihat kotak berwarna merah ada tepat di depan mata bapak. “Lama kali kau bodoh!” hardiknya. Kepalaku reflek menunduk. Ya, aku ketakutan kalau bapak sudah menghadirkku. Sedari dulu, rasanya sangat-sangat mustahil kalau bapak memberiku kasih sayang. Hardikan untukku seperti pahala baginya. Merepotkanku dengan isi perutnya setiap dini hari seakan menjadi nafkah darinya. Kotak merah yang sebelumnya ada di depan mata bapak sudah beralih di kakiku.

“Kau pakai itu!” perintahnya. Sesegera mungkin kuambil kotak merah di kakiku dan meninggalkan bapak. Entah aku tak mengerti nasib wajan di meja sebab aku enggan membiarkan inderaku bercengkerama dengannya terlalu lama. Bisa makan hati terlalu banyak. Rakus.

Gelegar petir memberi kabar bahwa malam segera tiba. Kubuka kotak merah perlahan. Berharap itu adalah bentuk kasih sayang dari bapak. Entahlah, terkadang aku masih berharap ada secuil kasih sayang darinya. Sekalipun itu pura-pura. Kuhentikan lamunanku dan menarik keluar isi kotak merah. Gaun tipis berwarna hitam tanpa lengan dengan hanya dua tali kecil pemersatu bagian depan dan belakangnya terpampang jelas di depan mataku. Memang indah, terlihat benar-benar indah. Aku terkagum. Untuk sejenak kupikir bapak menyayangiku.

Kukenakan gaun itu. Untuk pertama, bra milikku terlihat jelas. Dengan modal gunting dan benang, kubuat benda itu tak terlihat, memuaskan. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka lebar setelah bapak memaksa masuk. Terkadang aku berpikir ke mana perginya akal dan pikiran bapak, rumah ini telah berusia lanjut, masih saja bapak melakukan tindakan bodoh seperti mendobrak pintu, memecahkan kaca jendela dan semacamnya.

“Wow!” serunya. Hentakan heels yang kubeli di pasar beberapa hari yang lalu adalah balasan atas ucapan bapak. Aku melewatinya begitu saja sembari menggumam kencang. Suara kertas yang ditarik terdengar lirih, tapi aku terus berjalan tak mempedulikan apa yang terjadi di balik punggungku. Aku melangkah ke arah dapur, mencari benda yang selalu kubawa kemana-mana. Mengingat lingkungan tempat tinggalku memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi.

“Dera! Cepat bodoh!” ia kembali berteriak.

Langkah kakiku reflek mempercepat gerakannya. Untung saja saat kecil aku termasuk pelari tangguh di kampung ini. “Mau kemana kita?” tanyaku. Bapak meraih tanganku dan menariknya kasar. Aku melihat ia menggenggam secarik kertas di tangan kirinya. Sepertinya, itu kertas yang bapak tarik tadi. Lagi-lagi, masa bodohlah.

Bapak berhenti menarikku saat kami berada di depan rumah dengan cahaya lampu merah, biru dan hijau yang menyala bergantian. Ramai sekali disini. Ramai musik, laki-laki, juga ramai wanita yang mengenakan pakaian indah sepertiku. Aku mulai merasa tak nyaman ketika satu per satu lelaki menyentuh pundakku posesif. Aku mendekatkan diriku ke arah bapak namun bapak malah menjauhkanku darinya. Tiba-tiba ia melingkarkan seutas tali dan kertas di leherku. “Diam disini” ucapnya sembari mendorongku duduk di atas sofa.

Satu juta saja. Kertas yang suci sebelumnya telah tertorehkan tinta hitam tebal. Entah maksud membuat tidak suci atau hanya sedikit menodai. Aku tak terlalu mengerti maksud kertas ini. Untuk kesekian kali, masa bodohlah.

Lelaki berbadan besar melewati sepasang daun pintu yang tak seberapa tinggi. Seketika semua orang menjauh. Sepertinya lelaki itu adalah seorang bodyguard. Di belakangnya ada lelaki tampan berbadan proporsional yang sedang melirik ke arahku sekarang. Lelaki itu berbisik pada bodyguard-nya sembari mengamati diriku dari atas sampai bawah. Bapak berjalan ke arah lelaki tampan itu dan terlihat jelas bahwa ia menerima uang. Kurasa jumlahnya lebih dari satu juta rupiah.

Bapak berbalik dan menuju ke arahku. “Akhirnya. Tak perlu aku repot-repot urus kau. Bodoh. Kau memang anak haram yang bodoh!” ia menertawaiku sekarang. Ditariknya badan mungilku. Ia melemparku ke arah lelaki tampan, dengan cepat lelaki itu menangkapku dan tersenyum padaku. “Kumohon jangan takut.” Ucapnya padaku. Aku mengangguk kecil. Aku sedikit tenang sekarang. Entah apa selanjutnya, yang kutahu mereka membawaku pergi dari tempat ini. Dan mereka terlihat buru-buru.

Aku tak mengenali tempat ini sebelumnya. Dingin. Lelaki itu menarik tanganku melewati pepohonan pinus yang tinggi dan kokoh. Aku melirik ke belakang, tak dapat kulihat apapun. Gelap. Tidak ada penerangan di sini. Bodyguard-nya juga sudah tak mengikuti. Kutanya pukul berapa ini, lelaki itu menjawab pukul dua pagi. Rumah berdinding kayu dengan luas tiga kali tiga meter menjadi tujuan kami.

Rumah ini kecil, hanya ada kasur busa yang cukup besar serta satu buah lampu berwarna kuning di langit-langit. Kemudian kami duduk di atas kasur ini. “Siapa namamu?,” tanyanya. Lelaki itu mendekapku posesif. Seperti tak mau kehilanganku. Entah, apakah aku disayangi saat ini?

“Kaldera.” Jawabku.

Lelaki itu tertawa cukup lama. Ia juga melihatku dari atas ke bawah lagi. Aku merasa seperti santapan lezat untuknya sekarang. Aku menunduk, ia tertawa lagi.

“Mari kita lihat apa yang kamu bisa Dera!” tangannya meraba-raba tubuhku dari ujung rambut sampai ke dagu dengan lembut namun perlahan-lahan aku merasakan lelaki itu sedikit kasar. Ia menciumku tepat di bibirku. Bibir yang selalu menahan amarah. Bibir yang tak pernah kubiarkan menghardik orang lain. Bibir yang bungkam. Aku mendorongnya menjauh. Lelaki itu sontak kaget dan tertawa.

“Kau ini sudah dijual, Dera! Dasar anak haram bodoh!,” hardiknya kasar. Dera menjatuhkan beberapa bulir airmatanya ketika mendengar hardikan yang sama dengan hardikan bapak. “Bahkan aku membelimu lebih dari huruf-huruf di kertas itu!” ucapnya lagi.

Lelaki itu meraih kertas di leherku dengan paksa lalu tertawa terbahak-bahak. Ia masih berusaha mendekatiku. Dengan sisa-sisa kekuatanku, aku terus menerus mendorongnya sembari mundur perlahan. Aku memilih untuk mundur ke arah daun pintu yang sepertinya tak dikunci.

Lelaki itu masih saja tertawa ke arahku. Dan tak henti-hentinya menghardikku dengan beribu-ribu kata-kata yang masih asing untukku. Jalang, pelacur, murahan, dan lain-lainnya. Sembari mundur ke arah daun pintu, tanganku berusaha meraih benda yang sengaja kumasukkan ke dalam tasku. Sebilah pisau dapur yang kubeli di pasar dengan harga seribu rupiah karena membiarkan pedagangnya memegang pahaku sebentar.

“Dera sayang… Mau kemana kamu menjauh dariku?” tanyanya sambil berusaha mendekatiku terus-menerus.

“Aku Kaldera. Cukup panggil aku Dera,” jawabku ketus. Aku menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. “Kalau kau memanggilku lebih. Cedera.” Tambahku. Lelaki itu tertawa lagi, kali ini ia tertawa sangat kencang.

“Memangnya kenapa kalau aku panggil lebih dari Dera, hah? Dasar kau anak kecil murahan!” aku tak mengerti ia menghardikku atau malah bertanya padaku.

“Karena aku bisa mencederai,” sorot mataku tajam dan melihat ke arahnya. Ia membentakku dan berteriak di depanku. Sontak aku kaget, namun aku mempertahankan mimik wajahku agar ia takut. Namun ternyata, ia sudah di depan tubuhku sekarang, tertawa lagi dan lagi.

“Memangnya kamu bisa apa, bocah?” ia bertanya. Ia bertanya saat ia tidak menyadari bahwa dibalik tanganku, tersimpan sebuah pisau dengan sejuta dendam. Pada ibu, bapak, orang-orang kampung, lelaki itu serta pada diriku sendiri. Pisau yang kupegang terhempas dan tertancap tepat di dada lelaki itu. Darah keluar dari sela-sela pisau dan menyembur ke arah wajahku. Aku mengusapnya dengan pakaian lelaki itu. Aku tak peduli dengan teriakan-teriakannya. Kutarik pisau itu dan kutancapkan berulang kali. Aku tertawa bahagia.

“Aku Kaldera. Cukup Dera jangan dilebih-lebihkan. Sebab aku bisa mencederai.” Cercahku sembari tertawa terbahak-bahak. Wajahku berlumuran darah, tapi aku masih sanggup tertawa. Malah, aku rasa, ini benar-benar sebuah kebahagiaan. Kuputuskan untuk bermalam di sini. Bersama dengan mayat lelaki bodoh yang hampir menodaiku. Atau sudah meninggalkan noda dengan cara membeliku dengan harga mahal. Tapi sekarang, dendamku sudah habis. Tak tersisa. Aku sudah siap. Di manapun aku harus berakhir esok hari.

8 Shares

11 thoughts on “Cerpen: Kaldera

  • 26/11/2017 at 12:53
    Permalink

    bagus. . .
    ======
    “Kau ini sudah dijual, Dera! Dasar anak haram bodoh!,” hardiknya kasar. Dera menjatuhkan beberapa bulir airmatanya ketika mendengar hardikan yang sama dengan hardikan bapak. “Bahkan aku membelimu lebih dari huruf-huruf di kertas itu!” ucapnya lagi.
    ======

    ada yang kecolongan di bagian ini.

  • 27/11/2017 at 11:02
    Permalink

    Masalah EYD, kah? Yang tanda seru (!) pake koma yaa

  • 27/11/2017 at 13:43
    Permalink

    …Dera menjatuhkan beberapa bulir air matanya ketika…

    nah. knapa pnulis jadi org ketiga di sini?

  • 27/11/2017 at 14:20
    Permalink

    Kerenn bangeett..

  • 27/11/2017 at 14:21
    Permalink

    Klimaksnya dapet banget .. paraahh 💕💕

  • 27/11/2017 at 14:22
    Permalink

    Ceritanya gabisa ditebak, jadi seru banget bacanyaa…

  • 27/11/2017 at 14:40
    Permalink

    sadis ya…………….
    ngapain juga diurus kalau ujung-ujungnya dijual juga
    hidup memang keras

  • 27/11/2017 at 19:10
    Permalink

    sungguh miris ya Allah, ada kalanya pengaruh ekonomi lah yang menyebabkan sang ayah terlhat bengis dan kebanyakan seorang wanita dijual hanya demi memuaskan napsu lelaki yang tidak bisa ditahankan. Oh dera, anak malang sungguh sulitnya pejuanganmu

  • 27/11/2017 at 19:50
    Permalink

    kerennnn 🙂
    jalan cerita ya susah ditebak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *