Puisi-puisi Yunk Putra El-Lefaqy – Kepada “eL”

334 Shares
Gantungan Kunci

 

oleh-oleh darimu

berkunjung ke Kota Kopi dulu.

 

sayang, kunci melepas kait padanya.

itu cenderamata

bila dilihat menyiksa mata; mata hati.

 

Depok, 2017

 

 

Arus Masa Lalu

 

pernah kukira kaulah cinta

untuk setiap degup dada

getar asmara mengalahkan denyut semesta

lebih mabuk dari para pemabuk

tenggelam lebih dalam

dari para penyelam

kita menyulam hari-hari

dari gumpal benang paling pualam

 

di tengah gulungan kutemukan

benang-benang pupus. kita

putus. aku terbawa arus.

 

Menceng Raya, 2017

 

 

Okulele

 

pada karat-karat paku

di dinding ini

kugantung kau.

– juga jejak lentik jemari

yang (pernah) memetik dawaimu –

 

Menceng Raya, 2017

 

 

Kepada “eL”

 

sebotol kecil minyak wangi warna biru

yang kau beri sebelum pergi dulu

telah kupakai setengah, eL.

sisanya kutitip di rumah dewi: dewi anjani.

– doa-doa yang kita panjat bersama

ketika cinta bersemi dulu (telah) kutancap

juga di atap rumahnya –

 

agar pucuk-pucuk cinta bertemu

di puncak rinjani. lalu mengalir

dari anak-anak sungai segara anak.

 

kini aku bermuara di sungai selayar. kau

bermuara di mana?

 

Menceng Raya, 2017

 

 

Di Halte Rawa Buaya

 

setiap bus trans yang singgah

kutatap lekat ke arah pintu.

harap-harap ada kau

keluar di antara kerumunan.

 

Menceng Raya, 2017

 

 

Untukmu yang Pernah Bertamu
ke Rumahku

 

– telah – kututup semua pintu.

 

Menceng Raya, 2017

 

 

Membangun Rumah

 

sebagai tukang bangunan,

aku haruslah pandai

membuat rumah.

sebelum membangun tangga

bersamamu.

 

Menceng Raya, 2017

 

 

Di Sebuah Lamun

 

ada senyum yang kurangkum:

sepasang ranum lesung

 

pernah kukulum, bergulung

sekali gumul tarung

dalam dengung malam

yang kuurungkan arung

 

Menceng Raya, 2017

 

334 Shares

Yunk Putra El-Lefaqy

Asli Lombok NTB. Sekarang bermukim di Jakarta. Pecinta senja dan puisi.